Pages

Tampilkan postingan dengan label Unsolved. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Unsolved. Tampilkan semua postingan

21 Januari 2014

Tragedy Kematian Model Playboy Dorothy Stratten

Diposting oleh Unknown di 21.30 0 komentar



Dorothy Stratten lahir di Vancouver, British Colombia. Tumbuh sebagai remaja, Dorothy dikenal sebagai gadis yang sangat cantik. Matanya indah, Rambutnya pirang keemasan  dan tubuhnya sexy. Dorothy tidak menyadari potensinya bisa membuatnya menjadi bintang hingga bertemu dengan pemuda bernama Paul Snider.

Ketika usianya hampir 17 tahun, dia bekerja di sebuah restoran cepat saji milik Paul Snider, yang usianya sembilan tahun lebih tua. Sejak melihat gadis cantik dengan tubuh ramping dan payudara besar itu, Paul sudah yakin bahwa gadis ini akan menjadi bintang. Dan dia memang benar.

Paul tidak menutupi ketertarikannya dan ia terang-terangan mengejar Dorothy. Setelah akhirnya menjalin hubungan dengan Dorothy, dia meyakinkan gadis itu agar bersedia diorbitkan menjadi model majalah Playboy, dia akan menjadi kaya raya dan terkenal.

Awalnya Dorothy yang sederhana dan pemalu mengabaikan gagasan itu, tapi Snider mendorongnya terus. Snider akhirnya berhasil merayunya untuk difoto telanjang. Snider kemudian mengumpulkan photo-photo itu dan megirimkannya ke Majalah Playboy di LA. Tanpa diduga ternyata foto-fotonyanya sangat memikat redaksi majalah playboy dan  hanya berselang dua hari saja mereka kemudian memanggilnya.

Snider merasa gembira, ia memang sudah yakin menemukan tambang emas melalui Dorothy. Mereka memenuhi panggilan itu dan Snider kemudian memperkenalkan diri sebagai Manajer Dorothy. Penampilan Snider dan lagaknya yang sok membuat pihak Playboy merasa kesal dan memandangnya sebelah  mata. Mereka tentu paham betul tipe-tipe pria macam Snider dan menganggapnya sebagai orang yang tamak. Mereka  tidak menyukainya sama sekali, namun demi mendapatkan Dorothy, mereka sedikit bersabar.

(Foto: Paul Snider dan Dorothy Sratten)

Dorothy mulai menjalani pemotretan untuk Playboy. Sikapnya yang lugu membuat pihak Palyboy harus memberinya arahan ekstra. Akhirnya memang berhasil, dan Dorothy mulai menikmati profesi barunya sebagai foto model majalah Playboy.

karirnya perlahan mulai bersinar. Tubuhnya yang sexy dengan dada indah dan kaki jenjang serta wajah yang cantik, ternyata disukai pembaca hingga dia kemudian mendapat gelar Playboy Playmate Oktober 1979. Pintu ketenaran sudah terbuka bagi Dorothy. Kesibukannya bertambah padat dan pada saat yang sama Snider merasa mulai diabaikan.

Sebagai bintang yang tengah bersinar terang, Heffner, petinggi Playboy, memperkenalkan Dorothy pada beberapa orang-orang penting di industri hiburan, antara lain pembuat film Peter Bogdanovich, yang telah melahirkan film-film terkenal seperti “Paper Moon”. Saat itu Bogdanovich baru saja putus dari aktris pirang Cybill Sheperd, yang kemudian menjadi partner Bruce Willis dalam film “Moonlighting.

(Majalah People dg Cover Peter Bogdanovich dan Cybill Sheperd)

Perkenalan itu mengesankan Dorothy. Bogdanovich berbeda dengan Snider. Ia pemuda yang sukses dan terpelajar. Bogdanovich pun ternyata jatuh cinta pada gadis itu. Ia selalu mengira gadis-gadis playboy agresif namun Dorothy terasa lain. Mereka kemudian berhubungan dekat. Bogdanovich bahkan merencanakan akan menggebrak bisnis pertunjukan dengan menampilkan Dorothy. Bogdanovich ingin kekasihnya itu tak dipandang sebelah mata dengan julukan sebagai pelacur seksi dengan dada besar.

Dorothy kemudian memutuskan Snider.

Mengetahui hal itu perasaan Snider hancur dan harga dirinya tersinggung. Ia merasa Dorothy lupa diri bahwa semua kesuksesan dan ketenaran yang kini didapatnya adalah berkat jasanya. Snider juga sangat cemburu pada kesuksesan Dorothy. Dia menuntut pengakuan dan jasa atas itu semua.

Namun Dorothy telah berniat menjauh darinya dan banyak pihak yang mendorongnya untuk itu. Tapi sulit bagi gadis itu melakukannya, apalagi dia sebenarnya sudah menikah dengan Snider sebelumnya.

Agustus 1980, Dorothy memutuskan bersedia bertemu Snider untuk terakhir kali, sehingga dia bisa mengakhirinya baik-baik. Dia setuju bertemu di apartemen tempat mereka pernah tinggal bersama.  Dorothy melakukan perjalanan yang cukup jauh dari New york, dimana dia tengah syuting film “They All Laughed” yang di sutradarai oleh Bogdanovich.

Dia sampai di apartemen Snider dengan harapan bisa menjernihkan persoalan mereka, bahkan sedikit ganti rugi bila itu bisa melepaskannya dari pria itu. Namun perkiraannya meleset. Kejadian tragis menjemput gadis cantik itu.

Tetangga flat Snider tidak mendengar apapun dari kamar Snider selama beberapa hari dan mereka menjadi khawatir lantas memutuskan memeriksa flatnya. Pemandangan yang mereka lihat sangat menyeramkan. Gadis itu berbaring dengan wajah menghadap lantai, tubuhnya telanjang, wajahnya babak belur berlumuran darah. Darah juga melumuri seluruh tubuhnya termasuk ada cetakan tangan berdarah di bawahnya. Jari kelingkingnya terlepas dan hilang.

Disamping tubuh Dorothy adalah mayat Snider. Dia menembakkan pistol diantara dua matanya , meninggalkan lubang menganga dan salah satu matanya tergantung keluar. Tubuhnya juga telanjang. Keduanya sudah dikerubuti oleh semut.


Dorothy Stratten meninggal pada usia 20 tahun. Petrus Bogdanovich sangat patah hati kala itu. Ia tak percaya peristiwa setragis itu terjadi. Selama beberapa saat ia masih dihantui cintanya pada Dorothy hingga kemudian menikahi adik Dorothy, Louise. Pernikahan itu, seperti dira banyak pihak tidak berhasil dan mereka bercerai pada tahun 2001.

Dua film yang mengangkat kisah ini dibintangi Jamie Lee Curtis berjudul “Death of A Centerfold” dan “Star 80’s” dibintangi oleh Mariel Hemingway dan Eric Robert. Film ini juga mengambil gambar di apartemen tempat pembunuhan itu terjadi. 

Inilah beberapa picture dari Dorothy Stratten:




Selengkapnya...

Misteri Menghilangnya Tara Calico

Diposting oleh Unknown di 21.06 3 komentar



20 September 1988, di  dekat Belen, New Mexico adalah pagi hari yang sempurna untuk bersepeda. Langit cerah dan tak ada tanda-tanda akan turun hujan.

Tara Calico, gadis cantik berusia 19 tahun sering mengendarai sepedanya sejauh 18 mil menelusuri State Road yang sepi sebelum berbalik kembali ke rumahnya. Ia memang gemar bersepeda dan aktifitas ini sering dia lakukan sebelumnya.

Seperti biasa, pagi itu dia meninggalkan rumah untuk bersepeda setelah sebelumnya berpamitan pada sang ibu, Patty Doel. Sebelum pergi ia menitip pesan agar sang ibu mencari dan menjemputnya jika dia belum kembali ke rumah hingga siang hari. Pesan itupun diterima dengan biasa saja oleh Patty Doel. Ini karena sebelum itu sepedanya pernah mengalami pecah ban dan ditambal. Mengingat hari itu Tara  juga punya jadwal untuk bermain Tennis, Patty Doel mengira pasti Tara tak ingin terlambat.

Tara adalah wanita muda yang sangat aktif, selain sebagai mahasiswi yang tengah belajar di Universitas New Mexico untuk menjadi psikolog, dia juga bekerja sebagai teller sebuah bank lokal.

Setelah menitip pesan, Tara pun pergi. Patty Doel sempat menyibakkan tirai jendela dapur dan melihat putrinya yang periang itu mengayuh sepeda menjauhi rumah. Ia tak pernah menyangka, itulah saat terakhir dia melihat Tara.

Menghilangnya Tara

Pukul 12:05, Patty Doel, menyadari bahwa Tara belum kembali. Ia kemudian mengeluarkan mobil dan tanpa curiga pergi mencari Tara. Ia sama sekali tidak panik waktu itu karena yakin putrinya mengalami pecah ban lagi seperti sebelumnya atau sebab yang lain. Dia bahkan mengira akan menemui Tara di sepanjang jalan yang biasa menjadi rutenya bersepeda. Namun hingga menjelang malam ia tak menemukan Tara. Kepanikan mulai menggayuti benak Patty. Ia mulai yakin ada sesuatu yang terjadi pada putrinya. Dengan menahan tangis, ia memutuskan melaporkannya pada polisi. Polisi pun langsung melakukan pencarian.  Para tetangga pun bergabung dengan keluarga Doel melakukan pencarian di sepanjang State Road 47, rute Tara biasa bersepeda.

Dalam pencarian itu, ditemukan sebuah kaset Band Boston disamping jalan raya dekat Brugg Street, beberapa mil sebelah tenggara dari kediaman mereka. Doel yakin kaset itu adalah milik Tara. Dia juga melihat bekas trek sepeda yang sedikit samar di tanah. Selain itu, juga ditemukan bagian dari Walkman merk Sony yang diyakini juga milik Tara di dekat perkemahan John F Kennedy, 19km dari rumahnya , sedikit lebih jauh dari rute yang biasanya dilalui Tara.

Mereka juga meminta bantuan dari berbagai pihak tidak hanya departemen kepolisian di seluruh Amerika Serikat, tetapi juga melalui acara berita televisi namun tak ada hasil.

Tara menghilang begitu saja.

Patty Doel berusaha tegar dan yakin suatu saat putrinya akan datang. Mungkin ia pergi ke rumah teman dan tertidur disana, namun ia sendiri  meragukan kemungkinan itu karena itu bukan tipikal Tara, apalagi ia juga punya tanggung-jawab pada pekerjaannya. Namun Patty yakin Tara masih hidup dan berusaha meninggalkan jejak agar orang-orang bisa menemukannya. Beberapa saksi mengatakan sebuah mobil pick up berwarna putih atau abu-abu mengikuti Tara hari itu. Namun kesaksian itu juga tidak bisa membuktikan apapun bahwa itu adalah penculik Tara.

Berbulan-bulan pencarian Tara, berbagai kesaksian dan petunjuk tidak juga menemukan titik terang keberadaan gadis itu. Banyak pihak mengira mungkin Tara sudah tewas dan dikubur entah dimana, namun keluarga Tara tidak mau menyerah. Mereka yakin Tara masih hidup, mungkin disekap oleh seseorang atau tersesat di hutan, meskipun kemungkinan itu kecil sekali.

Setahun kemudian Rene Rivera bergabung dan akhirnya menjadi sheriff di Valencia. Dia menyelidiki misteri hilangnya Tara selama bertahun-tahun kemudian. Ia juga menyaring informasi mana yang benar atau palsu dengan harapan mendapatkan petunjuk tentang menghilangnya Tara.

Penemuan sebuah foto polaroid di tempat parkir pertokoan pada bulan Juni 1989 yang diyakini adalah foto Tara bersama seorang bocah lelaki yang diduga adalah Michael Henley, Jr yang juga dilaporkan menghilang benar-benar menghebohkan sekaligus membuat frustasi keluarga yang mencintai dan menunggu kepulangan mereka.

Michael Henley,Jr, juga menghilang pada bulan April 1988 saat sedang berburu kalkun dengan ayahnya di daerah pegunungan Zuni, bagian selatan Grants, sekitar satu jam dari Albuquerque. Saat menghilang usianya baru 9 tahun. Dalam foto itu tergambar seorang wanita muda dan bocah laki-laki yang kedua tangannya terikat dan mulut dilakban. Foto itu sepertinya diambil di bagian belakang van. Disamping mereka tergeletak sebuah buku karangan VC Andrews, yang menurut pengakuan beberapa teman Tara adalah pengarang favorit Tara. Wanita yang menemukan foto itu melihat sebuah mobil van berwarna putih meninggalkan tempat parkir sebelumnya. Ia juga mengatakan pengemudinya adalah seorang pria sekitar pertengahan 30 tahun dan berkumis.

(foto yang diperkirakan Tara)

Mulanya Patty Doel yakin itu adalah poto putrinya tetapi kemudian dia ragu karena daerah sekitar mata gadis itu membengkak, berbeda dengan Tara. Namun bekas luka di kaki gadis dalam poto itu mirip sekali dengan bekas luka Tara saat mengalami kecelakaan mobil. Secara bertahap kemudian Patty Doel kemudian menjadi yakin bahwa itu memang poto putrinya. Mengenai matanya yang tampak sembab dan bengkak, bisa saja karena gadis itu diambil gambarnya saat bangun tidur. Marty Henley, ibu Michael Henley juga meyakini bocah lelaki dalam poto polaroid itu juga adalah anaknya yang hilang.

Scotland Yard pun meyakini gadis itu adalah Tara, namun ada banyak perdebatan disini antara lain dari pihak FBI dan para ahli di Los Alamos National Laboratory yang justru meragukan hal itu. Satu ganjalan terbesar adalah bahwa mayat Michael Henley sudah ditemukan sebelum photo itu ditemukan di pegunungan Zuni pada tahun 1990, tidak jauh dari tempatnya menghilang. Penyelidik yakin ia tewas karena tersesat. Jadi siapa bocah dalam poto itu? Dan benarkah gadis itu adalah Tara? Sebenarnya para penyelidik dan ahli investigasi memiliki teori akan hal ini,namun tanpa mayat dan bukti pendukung lain, itu hanyalah sebuah spekulasi.

Keluarga Tara Calico tetap berharap bisa menemukan gadis itu kembali. Namun tahun demi tahun berganti, jejak Tara menghilang begitu saja. Kasusnya pun mulai terlupakan. Keluarganya walaupun berat harus terus melanjutkan hidup. Harapan demi harapan mulai surut.

Tahun 2002, Ayah Tara meninggal dunia dan setahun kemudian,Patty Doel dan suami tirinya pindah dari rumah yang selama ini mereka diami, tempat Tara dibesarkan. Mereka pindah ke Port Charlotte, Florida.

Mei 2006, Patty Doel meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami serangkaian stroke. Suaminya mengatakan keluarga mereka sudah pasrah dan menerima kenyataan jika mungkin Tara memang sudah meninggal atau terbunuh, sebab jika masih hidup, pasti gadis itu bisa menemukan cara untuk kembali pada mereka. Namun istrinya, Patty Doel, selalu menunggu putrinya kembali hinggal ajal menjemput.

Para penyelidik pun mulai menyerah. Sherif Rene Rivera mengungkapkan kemungkinan Tara memang sudah meninggal September pagi itu saat sedang mengendarai sepedanya. Kemungkinan ada beberapa pemuda yang mengikuti dan menyerangnya.

Dia adalah gadis yang atraktif, cantik dan popular. Kemungkinan para pemuda itu hanya sekedar ingin menarik perhatiannya namun sebuah insiden membuat gadis itu terbunuh. Mereka panik dan kemudian menyembunyikan mayat gadis itu, yang bisa jadi juga orang tua mereka turut berperan dalam menyembunyikan mayat itu demi menyelamatkan anaknya dari jerat hukum. Entah dari mana keyakinan ini, adakah sesuatu hal yang membuat sheriff ini mencurigai seseorang? Namun lagi-lagi teori ini tak dapat mengantarkan kasus ini menjadi jelas.

Tahun 2003, letnan Mark McCracken ditahan dalam kasus pembunuhan istrinya sendiri. Namun kemudian dia terbukti tidak dalam kesengajaan mengakibatkan istrinya terbunuh. Peristiwa ini seolah membuka kembali file lama tentang Tara Calico. Seperti telah lama diketahui bahwa McCracken pernah mengencani Tara, namun hal itu terlalu lemah melibatkannya dalam kasus menghilangnya Tara.

Akhirnya kasus ini menjadi misteri yang tak terpecahkan hingga kini. Tara menghilang bak ditelan bumi, bahkan mayatnya sekalipun tak pernah ditemukan.
Selengkapnya...

19 Januari 2014

Black Dahlia Kasus Pembunuhan Tak Terpecahkan

Diposting oleh Unknown di 18.45 4 komentar

Kisah Elizabeth Short telah digambarkan dalam banyak cerita sejak 6 dekade lalu, semenjak tubuhnya yang terpotong menjadi dua bagian, dibuang pada sebuah lahan kosong di LA. Padahal Elizabeth tak lebih hanya seorang playgirl, penggoda, dan memiliki masalah kejiwaan. Namun kisah pelayan berusia 22 tahun ini telah menginspirasi puluhan buku, situs internet, video game, bahkan sebuah band di Australia.
Kepolisian LA sudah menyerah pada kasus ini dan menutup kasusnya, mengingat kemungkinan pembunuhnya sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu, namun pembunuhan Black Dahlia masih menarik untuk dibicarakan.

Pagi hari,15 Januari 1947, seorang ibu rumah tangga bernama Betty Bersinger sedang berjalan di sebuah perumahan di pusat kota LA dengan putrinya yang berusia 3 tahun. Sesuatu kemudian menarik perhatiannya. Pagi itu dingin, mendung dan ia sedang dalam perjalanan untuk mengambil sepasang sepatunya dari tukang reparasi sepatu. Pada pandangan pertama, Bersinger pikir, sosok putih yang terletak beberapa inci dari trotoar itu adalah manekin toko yang sudah rusak. Saat melihat lebih dekat, ia langsung terkejut bahwa yang dilihatnya adalah sesosok tubuh wanita yang terpotong menjadi dua bagian dan wajahnya menelungkup menghadap tanah. Lengannya terangkat diatas kepalanya pada sudut 45 derajat. Tubuhnya telah dicuci bersih dari darah, dan ususnya terselip rapi di bawah pantat.

Bersinger menutup mata putrinya dan berlari ke rumah terdekat untuk menelepon polisi.

Ketika 2 orang detektif, Harry Hansen dan Finis Brown tiba di TKP, jalanan sudah dipenuhi wartawan dan penonton yang menginjak-injak sembarangan sehingga kesterilan bukti tidak lagi terjaga. Para detektif kemudian meminta kerumunan masyarakat untuk menjauh.

Dari penyelidikan diketahui bahwa korban dibunuh di tempat lain dan diseret ke tempat itu. Ada embun di bagian bawah tubuh shingga diperkirakan waktu dia ditempatkan disana sekitar setelah jam 2 pagi, saat itu suhu udara mencapai 38 derajat.

Wajah korban sangat mengenaskan. Si pelaku pembunuhan menggunakan pisau untuk merobek ujung kedua mulutnya hingga 3 inchi panjangnya, wajahnya tampak menyeringai seperti badut. Kedua pergelangan kaki dan tangannya terlihat bekas lilitan tali, kemungkinan dia disekap dan disiksa sebelumnya.

Detektif LA memeriksa sidik jarinya dan mengirim cetakannya ke markas besar FBI di Washington DC. Setelah dibandingkan, sidik jari itu cocok dengan sidik jari milik Elizabeth Short, yang diambil saat dia bekerja di ruang telegram di pangkalan militer California dan juga saat ditangkap karena pelanggaran mabuk dan minum minuman keras dibawah umur di Santa Barbara.

Wartawan mencium aroma sensasional dalam kasus ini.Mereka dengan cepat menghubungi Phoebe Short, ibu Elizabeth Short untuk mengorek kehidupan pribadinya.
Washington Post pun memuat kisahnya dengan judul yang sangat sensasional “Police seek mad pervert in girl’s death”
Elizabeth Short memiliki tubuh yang ideal di tahun 40’an  saat itu. Tubuh montok dengan pinggul langsing, dia sangat cantik. Dia mengecat rambutnya yang coklat dengan warna hitam legam, memakai lipstik merah darah dan selalu menyematkan bunga di rambutnya. Kulitnya putih dengan mata besar berwarna biru muda, dia seperti boneka perselen.Teman-temannya memanggilnya dengan julukan ‘Black Dahlia’ karena kegemarannya pada warna hitam dan film kesukaannya berjudul “the blue Dahlia” tahun 1946. Dan di tempat asalnya dia dipanggil “Bette”.

Lahir tanggal 29 Juli 1924 di Hyde Park Massachusetts, Elizabeth Short lahir dari lima bersaudara yang semuanya perempuan, dari pasangan Phoebe dan Cleo. Saat kecil, keluarganya pindah di sebelah utara Medford. Cleo Short sukses berbisnis miniatur golf tapi kehancuran saham tahun 1929 membuatnya bangkrut. Tak mampu membiayai kehidupan keluarganya, Cleo meninggalkan mobilnya di jembatan agar terlihat seolah dia mati bunuh diri melompat ke sungai karena putus asa.  Beberapa tahun kemudian dia menulis surat pada istrinya bahwa ia menabung agar bisa memindahkan keluarganya dari sana, tapi istrinya tidak menanggapinya dan menyatakan tak ingin berhubungan lagi dengannya.

Setelah ditinggal Cleo, keluarga itu pindah di sebuah apartemen kecil di samping Pacios dan Phoebe bekerja sebagai bookkeeper. 
Elizabeth yang sudah remaja sering diajak anak Pacios yang 10 tahun lebih muda, sekedar menemaninya makan es krim dan pergi ke bioskop. Kedua gadis itu menonton hampir semua film-film Roger Fred Astaire dan Ginger Roger yang sangat populer saat itu.

Short terlahir menderita asma dan bronchitis hingga dewasa. Saat 16 tahun, ibunya mengirim dia liburan musim dingin dengan keluarga temannya di Miami, dimana dia disana kemudian bekerja sebagai pelayan. Usia 19 tahun, Short dengan menggunakan kereta api lintas negara pergi untuk tinggal dengan  ayahnya yang tinggal di Valejo, yang berdekatan dengan San Fransisco. “Dia menaruh impian pindah ke California membuka peluang baginya masuk dunia film” tulis Pacio.

Sejak awal, hubungannya dengan sang ayah penuh dengan perselisihan. Mereka tak bertemu selama bertahun-tahun, walau ayahnya dihantui penyesalan, namun mereka adalah dua orang asing yang tinggal bersama. Cleo mengharap putrinya lebih banyak mengurus rumah,memasak dan menjaga rumah. Namun Elizabeth ingin bebas dan tak ingin bekerja bakibu rumah tangga.

Dia kemudian bekerja di ruang surat di Camp Cooke di Lompoc, sekitar dua setengah jam utara LA. Dalam foto hitam putih yang diambil untuk ID karyawan, tampak bibirnya sedikit terbuka dengan pulasan lipstick, rambut hitamnya terjurai rapi.

Camp Cooke dihuni oleh tentara yang kesepian karena akan dikirim ke medan perang. Ia meninggalkan kesan mendalam pada setiap pemuda disana, kecantikan dan keseksiannya. Mereka selalu berusaha menarik perhatiannya, memilihnya sebagai “penghuni camp paling cantik” dan memujinya bahwa ia layak menjadi bintang film.
Beberapa bulan kemudian, dia ditangkap di sebuah bar si Santa Barbara karena masih dibawah umur dan dikirim pulang ke Medford.

Selama beberapa tahun kemudian, dia sering bolak-balik Medford-Chicago, ke Florida, California dan kembali ke Massachusetts. Dia juga sering ke klub malam tempatnya berdansa dan menari. Ia cinta musik, pria dan hura-hura. Hidupnya tak pernah sendiri, selalu ada pria di sekelilingnya.
Desember 1944, gaya hidupnya sebagai playgirl berubah saat bertemu dengan seorang pemuda, seorang militer berpangkat mayor di Flying Tiger. Dia jatuh cinta pada pemuda bernama Matt Gordon itu dan mengatakan pada Pacios bahwa pemuda itu lain dari yang lain, dan ia juga ingin menikahinya.  Saat Short kembali ke Medford ketika musim panas, Elizabeth memakai pin Pilot Wings yang disematkan di blusnya, tutur Pacios.
Saat itu Jepang telah menyerah pada tanggal 14 Agustus dan Elizabeth Short berhenti mengkhawatirkan Matt akan terbunuh dalam pertempuran. Namun takdir begitu kejam. Saat Elizabeth membayangkan pernikahan dengan gaun pengantin sutra, datang surat pendek yang mengabarkan jika Matt terbunuh dalam kecelakaan pesawat dalam perjalanan pulang dari India..

Elizabeth sangat terpukul. Dia menghabiskan waktunya dengan membaca surat-surat Matt bahkan saat kembali ke Miami, dia menyelipkan surat-surat itu ke dalam kopernya.
Di Miami, Elizabeth mengobati luka hatinya dengan memiliki sederet pria. Dia menikmati bersahabat dekat dengan mereka, dari segala lapisan, tentara, pengusaha, tua, muda.. tapi dia lebih senang menghabiskan waktu dengan pria-pria yang royal terhadap dirinya. Ia sadar kecantikannya. Pria-pria selalu bersiul saat ia berjalan dan sering mereka membayarkan makan malamnya. Perilaku inilah yang menyeretnya dalam istilah ‘pelacur’ tapi tak ada bukti yang mendukung tuduhan ini.
Uangnya habis untuk membeli pakaian yang bagus. Dia lebih baik keluar dalam keadaan lapar daripada memakai pakaian usang. Ia selalu keluar dengan pakaian bagus, mengenakan jas hitam, blus feminin, sepatu hak tinggi dan sarung tangan kulit.

Elizabeth kemudian dekat dengan seorang pria militer, Joseph GordonFicking.

Juli 1946, dia kembali ke Southern California agar bisa berdekatan dengan Joseph GordonFicking, letnan angkatan udara yang sangat tampan dan bermata hitam.Mereka bertemu di California dua tahun sebelumnya, tak lama sebelum pria itu dikirim ke luar negeri. Hubungan itu tidaklah mulus. Dari surat-surat yang disita kepolisian, terungkap betapa Fickling marah pada Elizabeth yang penggoda, dan mempertanyakan apakah dirinya berarti bagi Elizabeth dibanding pria-pria lain. Tampaknya Elizabeth tak perduli—atau tak mencoba meyakinkan pemuda itu.

Flicking kemudian pindah tugas ke North Carolina sebagai pilot maskapai penerbangan komersial, dan mereka tetap berhubungan. Ia juga terus mengirimi gadis itu uang termasuk trasfer kawat $100 per bulan sebelum dia meninggal. Surat terakhirnya pada Fickling tertanggal 8 January 1947—tujuh hari sebelum pembunuhan—ia mengatakan akan pindah ke Chicago untuk mewujudkan impiannya menjadi model.

6 bulan terakhir hidupnya, Elizabeth terus-menerus pindah dari selusin hotel, apartemen, rumah kos dan rumah pribadi di California Selatan. Dia bahkan hampir nyaris kekurangan uang. 13 November hingga 15 Desember, Elizabeth tinggal di sebuah apartemen dengan dua kamar tidur sempit di Hollywood dengan delapan wanita muda lainnya yang bekerja sebagai pelayan coctail, operator telepon, dan penari. Mereka membayar $1/hari untuk tempat tidur dan lemari untuk dua orang. Namun Elizabeth bahkan tak mampu membayarnya, ia seringkali menyelinap lewat pintu samping untuk menghindari manajer yang menagih uang sewa.

Teman-teman sekamarnya mengatakan pada LA Times setelah kematiannya, bahwa Elizabeth keluar dengan pacar yang berbeda setiap malam dan tak punya pekerjaan. Ia juga tak punya sahabat dekat baik pria maupun wanita, tapi lebih suka berkumpul dengan orang-orang yang tak dikenal dan secara konstan berubah ke kumpulan yang lain lagi.
Orang yang terakhir melihatnya adalah seorang salesman berumur 25 tahun bernama Robert Manley  yang dipanggil “Red” karena rambut pirangnya yang merah menyala. Menurut ceritanya, Ia ingat tengah melihat wanita cantik tanpa tujuan yang jelas tengah berdiri sendirian. Red mendekatinya dan bertanya apakah dia butuh tumpangan. Gadis itu memalingkan wajahnya dan menolak bicara. Tapi red terus mendekatinya dan meyakinkan bahwa ia tak ada niat jahat, tak berbahaya, hanya ingin membantunya, bahkan jika perlu akan memberinya tempat tinggal untuk berteduh.

Saat itu Elizabeth tinggal dengan sebuah keluarga yang merasa kasihan padanya setelah menemukannya di biskop 24 jam. Tapi mereka segera merasa jengkel karena ia hanya suka bermalas-malasan dan pergi pesta setiap malam. January 1947 mereka mengusirnya dan Red datang menjemputnya. Mereka tinggal di motel tapi tidak berhubungan badan sama sekali, katanya pada wartawan.

9 January, dia mengantarnya ke LA dan membantu mengecek bagasinya di terminal bis. Elizabeth mengatakan akan ke Berkeley untuk tinggal dengan kakaknya dan mereka janji akan bertemu di Hotel Biltmore. Red menemaninya ke lobi hotel lalu meninggalkannya jam 6.30 karena harus kembali ke keluarganya.

Biltmore adalah tempat favorit Elizabeth untuk nongkrong. Banyak wisatawan kaya disana dan hotel terbesar di sebelah barat Chicago itu memiliki 1000 kamar. Lobinya sangat indah dengan langit-langit katedral dihias lukisan tangan, lampu kristal dan lantai marmer. Sangat kontras dengan tubuhnya yang tragis satu minggu kemudian.
Apa yang terjadi pada Eliabeth Short masih menjadi mistery. Satu hal yang pasti, selama tujuh hari dia berada dalam cengkeraman si pembunuh, yang mengejek dan menyiksanya sebelum dibunuh dalam keadaan yang begitu mengerikan.

5 January, tas kulit hitam miliknya ditemukan di tempat pembuangan sampah, beberapa mil dari TKP. Red mengenalinya sebagai milik Elizabeth, apalagi berbau parfum yang meresap di jok mobilnya selama mereka berkendara dari San Diego ke LA.

Robert Manley atau Red-lah satu-satunya orang yang terakhir bersama Elizabeth. Awalnya dia dituduh sebagai tersangka namun dibebaskan setelah menjalani tes poligraf (tes kebohongan) dan lulus. Didera masalah kesehatan mental, istrinya membawanya ke RS jiwa karena sering mendengar suara-suara. Dokter diam-diam memberinya suntikan Natrium pentothal dalam upaya mengumpulkan bukti kebenaran pembunuhan Black Dahlia, namunlagi-lagi dia lulus. Dia meninggal tahun 1986 karena terjatuh.

Mark Hansen, seorang manajer klub malam Holywood berusia 55 tahun. Banyak perempuan muda yang bekerja untuk Hansen tinggal di rumahnya yang terletak di belakang klub. Elizabeth menjadi tamunya selama beberapa bulan pada tahun 1946 dan ia pernah berusaha menidurinya tapi selalu gagal.

George Hodel adalah detektif LAPD yang sudah pensiun. Ia mempublikasikan  sebuah buku yang sangat laris “Avenger Black Dahlia” yang menggambarkan ayahnya yang kejam dan pernah memperkosa putrinya yang berusia 14 tahun (dibebaskan). Setelah ayahnya meninggal, Hodel menerbitkan album foto berisi dua snapshot dua wanita berambut gelap yang disebut Hodel sebagai Elizabeth Sorth. Namun keluarga Short membantahnya.

Jack Anderson Wilson adalah seorang gelandangan pemabuk. Dalam sebuah wawancara awal tahun 80’an, Wilson konon menceritakan rincian pembunuhan yang hanya si pembunuh saja yang mengetahuinya termasuk pengetahuannya tentang adanya cacat di organ intim Elizabeth yang membuatnya tak bisa berhubungan seks. Beberapa hari sebelum penangkapan, dia tewas dalam kebakaran hotel.

Walter Alonzo Bayley tahun 1997, LA Times menyarankan tersangka lain yaitu seorang ahli bedah yang rumahya terletak satu blok selatan dari tempat dimana tubuh Elizabeth ditemukan. Putri Bayley adalah teman adik Elizabeth yang bernama Virginia. Menurut teori ini,pembunuh Elizabeth Short pastilah seorang ahli bedah atau tukang jagal daging, dan kemungkinan Bayley menderita penyakit otak degeneratif yang membuatnya membunuh Short. Bayley berusia 67 tahun saat pembunuhan terjadi dan tidak memiliki catatan kekerasan, atau kejahatan. Ia juga tak pernah diketahui  bertemu atau mengenal Elizabeth Short.

Tak ada satupun tersangka kuat dalam kasus Black Dahlia. Sebagian bukti dan file juga sudah hilang terask 13 surat bernada mengejek dari sang pembunuh yang dikirim pada polisi dan media.
Selengkapnya...

 

Diane Blog Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Online Shop Vector by Artshare